Archive for June 6th, 2008

06
Jun
08

30 Advokat Siap Bela Munarman

Kamis, 05 Juni 2008 | 23:22 WIB

TEMPO Interaktif, Palembang:Sedikitnya 30 advokat dan asistennya menyatakan siap membela Munarman dalam menghadapi semua persoalan hukum yang sedang dialaminya. Puluhan advokat ini mengaku berasal dari Jakarta dan Palembang, tempat kelahiran Munarman.

Ke-30 advokat itu antara lain Chairilsyah, Eti Agustina (Direktur LBH Palembang), Suharyo, Febuarrahman, Sri Lestari, Bambang Heriyanto, Nazori Ahmad Do’ak, Bahrul Ilmi Yakup, Dhaby K, Gumayria, dan Bambang Heriyanto.

“Kami siap untuk membela Munarman. Semua surat-surat sudah disiapkan dan akan dibawah ke Jakarta,” kata Chairilsyah, juru bicara kelompok ini dalam keterangan persnya di Lembaga Bantuan Hukum Palembang, Kamis (5/6).

Menurut Chairil, sampai sore tadi pihaknya juga belum mengetahui keberadaan Munarman untuk menandatangani surat kuasa. Namun, dirinya yakin apa yang dilakukan oleh kawan-kawan di Palembang akan disetujui oleh Munarman.

Sikap ini, kata Chairil, merupakan sikap solidaritas mereka terhadap Munarman yang sama-sama advokat. Kebetulan pula Munarman adalah ‘wong kito’.

Melalui orang dekatnya, kata Chairil, Munarman juga berencana akan datang ke Polda Metro Jaya untuk menyerahkan diri. Hanya saja, katanya, mereka tak bisa memastikan kapan waktunya. “Katanya menunggu waktu yang tepat,” ujar Chairil. Arif Ardiansyah

06
Jun
08

Belum Ada Tanda Munarman akan Menyerah

Kamis, 05 Juni 2008 | 23:01 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Hampir satu jam berlalu dari waktu yang dijanjikan, belum ada tanda-tanda Munarman akan menyerahkan diri. “Kami masih menunggu,” kata Syamsul Bahri, pengacara eks-Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia asal Palembang, yang dikenal dekat dengan Munarman, Kamis malam (5/6).

Sebelumnya, pengasuh Pondok Pesantren At-Taibin, Cibinong, Anton Medan –mertua Syamsul Bahri, mengatakan Munarman akan menghubunginya sekitar pukul 22.00 WIB. “Tadi setelah magrib, dia telepon saya,” kata Anton Medan saat dihubungi Tempo.

Dia menjelaskan, dalam percakapan yang singkat itu, Munarman menyatakan siap menyerahkan diri malam ini dan akan menghubungi Anton, untuk menentukan tempat pertemuan mereka.

Syamsul pun tak bisa memastikan apakah Munarman benar akan menyerahkan diri malam ini. “Insya Allah…,” ujarnya.

Anton mengatakan sejak sore tadi mengatakan keluarga dan kuasa hukum telah siap menjemput Penglima Laskar Pembela Islam yang dinyatakan buron itu untuk menyerahkan diri ke polisi. Rini Kustiani – TNR

06
Jun
08

Seribuan Massa di Pekalongan Tuntut FPI Dibubarkan

Jum’at, 06 Juni 2008 | 21:41 WIB

TEMPO Interaktif, Pekalongan:Sekitar seribu massa gabungan terdiri dari Banser NU, Garda Bangsa, Pagar Nusa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Ormas Bahurekso, Forum Peduli Kota Pekalongan (FPKP), dan Komite Masyarakat Kota Batik (KMKB) melakukan aksi demo menuntut Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan.

Aksi yang diawali pukul 13.00 WIB, Jumat (6/6), dari Masjid Agung kota Pekalongan mendapat kawalan dari aparat dari Kepolisian Resort Kota (Polresta), Kepolisian Wilayah Polwil Pekalongan dan Brigadir Mobil (Brimob).

Menurut Koordinator Aksi, Jeky Zamzami, aksi turun jalan dilakukan setelah upaya dialog dengan FPI gagal karena Abu Ayyas, ketua FPI setempat, tak bisa ditemui.

“Telepon seluler dia juga dimatikan. Itu sama saja tak mau diajak berunding dengan baik-baik,” kata Jeky Zamzami.

Dia meminta aparat bertindak tegas dengan membubarkan FPI. Organisasi itu dinilai tidak hanya anarkistis, tapi juga melecehkan institusi kepolisian karena menyerobot wewenang aparat keamanan. Menurut Jeky, FPI juga dianggap organisasi ilegal, sebab tidak terdaftar dalam Departemen Hukum dan HAM.

Ketika di hubungi Tempo untuk minta konfirmasi terkait dengan tuntutan dari masyarakat yang mendorong pemerintah membubarkan FPI, telepon seluler Abu Ayas memang tidak aktif.

Abu Ayas juga tak bisa ditemui di rumahnya, yang juga markas FPI, di dukuh Boyongsari RT 04 RW 05, kelurahan Panjang Baru kecamatan Pekalongan Utara kota Pekalongan. Jum’at sekitar pukul 17.30 WIB, saat Tempo bertandang, hanya ditemui Rasina, istrinya, beserta kelima anak merekaa yang masih kecil-kecil.

Menurut Rasina, Abu Ayas meninggalkan rumah sejak pagi tadi bersama seorang kawan berboncengan motor. “Hingga kini belum pulang mas”, kata Rasina.

Rasina sendiri juga baru kembali ke rumah bersama anak-anaknya, setelah disuruh mengungsi ke rumah saudara oleh suaminya.

Sementara itu, Adri Sulistia Nugraha, manajer proyek PT Arta Kibar, ketika di hubungi Tempo di perumahan Kampoeng Paradise, Kota Pekalongan, membenarkan adanya pengrusakan yang dilakukan oleh masa FPI bersama ormas Islam terhadap patung di gerbang, yang mereka kira sebagai patung Bunda Maria.

Menurut Adri, Pengrusakan yang dilakukan oleh FPI terjadi sekitar bulan Maret 2008. Saat itu sekitar 30 orang mendatangi pintu gerbang perumahan Kampoeng Paradise dan merusak patung Trevi yang dikira patung Bunda Maria.

“Padahal itu patung Trevi. Mereka mengira di perumahan ini ada kristensiasi” kata Adri Sulistia Nugraha.

Meski begitu Adri menyayangkan sikap FPI yang anarkistis. “Tanpa membicarakan permasalahannya lebih dulu dengan pihak menejemen proyek.” Edi Faisol

06
Jun
08

Kontras: Ada Pengalihan Isu Insiden Monas

Jum’at, 06 Juni 2008 | 20:33 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Lembaga penggiat hak asasi manusia, Kontras, menyesalkan tudingan sejumlah pihak bahwa akar masalah insiden Monas adalah aliran Ahamdiyah.

Menurut Koordinator Kontras Usman Hamid, tudingan itu menjurus pada pembenaran atas tindakan kekerasan di Monas Ahad lalu. “Itu keliru dan tak masuk akal,” kata dia dalam siaran persnya di kantornya, Jumat (6/6).

Menurut Usman, insiden Monas harus dilihat dengan jernih. Antara kekerasan yang terjadi dengan tuntutan pembubaran Ahmadiyah harus dipisahkan.

Ia menduga ada sejumlah pihak yang berupaya mengalihkan isu insiden Monas dengan menghubungkan secara sebab-akibat munculnya kekerasan. “Tak bisa direduksi jadi pembubaran Ahmadiyah dulu, proses hukum kemudian,” kata dia.

Lebih jauh ia mengaku kecewa kepada Munarman. Menurut Usman, sebagai orang yang pernah menolak kekerasan, Munarman semestinya tak menghalalkan kekerasan untuk meraih tujuan.

Seperti diketahui, Munarman adalah senior Usman di Kontras, yang menempati posisi yang ditinggalkan Munir (almarhum) pada tahun 2000.

Lagipula, kata Usman, dalam sebuah perbincangan dengan Munarman beberapa waktu lalu, Munarman pernah berjanji tak akan melakukan kekerasan terkait aliran Ahmadiyah. “Ia memang tak setuju dengan Ahmadiyah, tapi saat itu ia berjanji tak akan melakukan kekerasan,” katanya.

Ahad pekan lalu, sekelompok massa yang menamakan diri Komando Laskar Islam menyerang kelompok massa dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang tengah menggelar apel memperingati Hari kelahiran Pancasila.

Dalam pernyataan pers Aliansi Kebangsaan dua hari lalu, disebutkan anggota Aliansi yang menjadi korban penyerangan itu mencapai 70 orang. Sejumlah pihak menuding kekerasan itu adalah buah ketidaktegasan pemerintah dalam membubarkan Ahmadiyah. Anton Septian

06
Jun
08

Goenawan Mohamad: Berbahaya Jika Pemerintah Gampang Melarang Organisasi

Jum’at, 06 Juni 2008 | 19:59 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Goenawan Mohamad, sastrawan dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, menyampaikan apresiasi kepada kepolisian atas penangkapan sejumlah aktivis Front Pembela Islam (FPI).

Seperti diketahui, aktivis FPI yang ditahan diduga telah melakukan aksi kekerasan terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 1 Juni lalu. Pada insiden ini jatuh korban, dua orang luka berat dan 68 orang luka ringan.

“Saya berterima kasih kepada kepolisian karena telah menyekap sejumlah anggota FPI dan apa yang menyebut diri Komando Laskar Islam,” katanya kemarin di Jakarta.

Goenawan turut serta dalam aksi damai memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni itu. Dia menyaksikan sendiri puluhan korban jatuh akibat serangan brutal hari itu. “Yang kami tuntut adalah hukuman yang setimpal bagi para pelaku kekerasan,” katanya.

Adapun tuntutan pembubaran FPI harus disikapi dengan kritis. “Saya pribadi mengimbau agar kita tetap memperhatikan hak untuk menyatakan pendapat dan berorganisasi,” katanya. “Sangat berbahaya bila pemerintah mengambil posisi gampang melarang organisasi. Ini seperti pengalaman kesewenang-wenangan di masa demokrasi terpimpin dan Orde Baru.”

Goenawan memahami kemarahan warga Nahdlatul Ulama, termasuk anggota Banser dan Ansor, terhadap Rizieq Shihab. Ucapan pentolan FPI itu dinilai menghina KH Abdurrahman Wahid, mantan presiden dan tokoh NU, serta ulama NU pada umumnya.

Hukuman terhadap aktivis FPI, menurut Goenawan, sebaiknya tak hanya menyangkut tindak kekerasan mereka di Monas. “Tapi juga yang mereka lakukan di tempat lain, termasuk dalam pembakaran rumah ibadah umat Ahmadiyah.”

Pada masa ekonomi sulit seperti sekarang ini, Goenawan menekankan, “Kita dan terutama pemerintah tak boleh mengabaikan bertambahnya kesulitan hidup rakyat karena naiknya harga BBM, sebagaimana kita dan terutama pemerintah tak boleh mengabaikan terancamnya hak-hak asasi untuk memilih agama dan kepercayaan, hak untuk bebas dari teror dan premanisme.”

Penyebaran kebencian dan kekerasan terhadap mereka yang berbeda, kata Goenawan, “Akan membahayakan Republik.”

SMM

06
Jun
08

FPI Baru Dideklarasikan di Jember

Jum’at, 06 Juni 2008 | 18:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jember:Front Pembela Islam Jember kembali terbentuk dan dideklarasikan di Jember, Jum’at (6/6). Padahal Selasa lalu, FPI Jember yang dipimpin Abu Bakar telah menyatakan membubarkan diri.

Deklarasi FPI baru itu dilakukan pukul 13.30, oleh 25 orang yang dipimpin oleh KH. Mukmin Mahalli, pengasuh pondok pesantren Nurul Mukmin Dusun Jatikoong Desa Jatiroto Kecamatan Sumberbaru.

Acara itu dilakukan di ruang kelas di pondok pesantren Nurul Mukmin. Ponpes ini berjarak sekitar 55 kilometer dari pusat kota Jember. “Ini deklarasi FPI Jember yang baru. Saya menggantikan Abu Bakar sebagai ketua FPI Jember yang telah membubarkan diri,” kata Mukmin.

Hadir juga perwakilan GP Ansor Pengurus Anak Cabang Kecamatan Ambulu, Abdul Hayyi dan seorang tokoh agama Kecamatan Tanggul, Haidar bin Sholeh (putra almarhum Habib Sholeh bin Mucshin Al Hamid, yang memiliki banyak pengikut di seluruh Indonesia).

Plus, utusan kepolisian sektor (Polsek) Tanggul dan anggota Musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Sumberbaru. Sekitar 40 orang santri Mukmin Mahalli juga turut menyaksikan deklarasi tersebut.

Mukmin Mahalli yang mengaku anggota Nahdlatul Ulama mengkalim, FPI baru yang dipimpinnya memiliki anggota sebanyak 300 orang. “Saya tegaskan FPI dan Ansor itu tidak ada masalah,” katanya.

FPI Jember yang dipimpinnya itu, akan digerakkan agar bisa berdampingan secara damai dan rukun bersama warga NU dan GP Ansor di Jember.

Ketika dikonfirmasi sejumah wartawan, kemungkinan adanya serbuan dari kelompok yang telah meminta FPI Jember dibubarkan beberapa waktu lalu, Mukmin mengaku tidak khawatir. Karena dia berkeyakinan, tidak ada persoalan antara FPI Jember dan organisasi manapun di Kabupaten Jember.

Mukmin mengaku, dirinya telah melaporkan deklarasi dan pembentukan FPI baru itu kepada pengurus FPI pusat di Jakarta. “Karena kami mendapat amanat setelah FPI pimpinan Abu Bakar membubarkan diri,” katanya seraya menolak menjelaskana apakah dirinya memang sengaja ditunjuk oleh pengurus FPI Pusat dan mendapatkan bantuan dana untuk acara itu.

Salah seorang perwakilan GP Ansor PAC Sumberbaru, Abdul Hayyi mengaku sengaja hadir dalam acara tersebut. Apalagi, katanya, selama ini tidak ada instruksi dari GP Ansor pusat untuk melawan atau membubarkan FPI. “Konflik yang ada itu antara FPI dan AKKBB,” katanya.

Hingga deklarasi berakhir, tidak ada satupun pihak-pihak yang mengacau acara tersebut. Acara itu juga tidak mendapat penjagaan ketat dari aparat kepolisian. Sedangkan bekas ketua FPI Jember, Abu Bakar hingga saat ini belum bisa dikotak atau ditemui TEMPO untuk mendapatkan konfirmasi. Mahbub Djunaidy

06
Jun
08

Rizieq Tak Sembunyikan Munarman

Jum’at, 06 Juni 2008 | 17:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta :P emimpin Front Pembela Islam Rizieq Shihab menyatakan dirinya tak terkait dengan persembunyian Munarman. Menurut Rizieq, Panglima Komando Laskar Islam itu sudah dewasa. Rizieq tak ada urusan dengan penyembunyian Munarman.

“Polisi menjerat dengan tuduhan menyembunyikan buron. Wong Munarman sudah dewasa, apa urusannya menyembunyikan,” kata politisi Ali Mochtar Ngabalin, menirukan ucapan Rizieq ketika anggota DPR itu menjenguknya, Jumat (6/6).

Menurut Ali, Habib Rizieq mengelak dari semua tuduhan polisi. Selain pasal 221 KUHP soal penyembunyian buron tadi, Rizieq dijerat pasal 170 soal pengeroyokan dan pasal 156 tentang menyebarluaskan kebencian terhadap golongan tertentu.Ibnu Rusydi

06
Jun
08

Munarman Dicekal

Jum’at, 06 Juni 2008 | 16:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta :P anglima Komando Laskar Islam, Munarman, dicekal oleh Direktorat Jenderal Imigrasi. “Dia dicekal terkait tindak pidana pengeroyokan dan penganiayaan di Monas pada Minggu lalu,” kata Direktur Penyidikan and Penindakan Imigrasi Departemen Hukum dan HAM, Syaiful Rachman, melalui sambungan telepon, Jumat (6/6).

Menurut Syaiful, pencekalan ini berdasarkan surat permohonan dari Bareskrim Mabes Polri. “Surat tersebut ditandatangani oleh Kepala Bareskrim Matheus Salempang,” lanjut dia. Syaiful menambahkan Munarman dicekal selama 20 hari terhitung sejak 6 Juni 2008.

Eka Utami Aprilia

06
Jun
08

Satu Tersangka Baru

Insiden Monas

Jum’at, 06 Juni 2008 | 14:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta :P olda Metro Jaya menangkap dan menetapkan satu lagi anggota Front Pembela Islam sebagai tersangka insiden kekerasan di lapangan Monas, 1 Juni lalu.

“Tersangka menjadi delapan orang. Ada beberapa (buruan) belum kita ambil,” kata Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Adang Firman, Jumat (6/6). Adang menyebut tersangka itu “Kumis”.

Menurut seorang petugas, tersangka baru itu adalah Muhammad Subchan, 43 tahun, yang ditangkap di rumah istrinya di Karawang, Jumat dinihari. Dalam sebuah bukti rekaman video insiden Monas yang dipegang polisi, Subchan terlihat memukuli seseorang.

Soal Munarman, panglima Komando Laskar Islam, kata Adang Firman, “Anggota saya masih mencari. Saya kira tidak kesulitan, tinggal tunggu waktu saja,” kata dia.Ibnu Rusydi

06
Jun
08

Warga Tidak Mengenal Sosok Munarman

Jum’at, 06 Juni 2008 | 14:17 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kediaman Munarman di Perumahan Bukit Golf Modern G5 8/26 Jumat (6/6) masih tampak sepi.

Pantauan Tempo, rumah tetangga Munarman juga terlihat sepi. Tidak tampak satu orang pun di Jalan Bukit Pinus tempat rumah Munarman berada. Tempo sempat menemui tetangga Munarman, Mirti warga G5 10. Dia mengaku tidak mengenal Munarman. “Orangnya saja belum pernah saya lihat,” katanya.

Sedangkan dua orang tetangga Munarman lainnya menolak berkomentar.

Hingga saat ini pihak kepolisian masih memburu keberadaan ketua Laskar Pembela Islam ini.Cornila Desyana