Jum’at, 06 Juni 2008 | 21:41 WIB
TEMPO Interaktif, Pekalongan:Sekitar seribu massa gabungan terdiri dari Banser NU, Garda Bangsa, Pagar Nusa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Ormas Bahurekso, Forum Peduli Kota Pekalongan (FPKP), dan Komite Masyarakat Kota Batik (KMKB) melakukan aksi demo menuntut Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan.
Aksi yang diawali pukul 13.00 WIB, Jumat (6/6), dari Masjid Agung kota Pekalongan mendapat kawalan dari aparat dari Kepolisian Resort Kota (Polresta), Kepolisian Wilayah Polwil Pekalongan dan Brigadir Mobil (Brimob).
Menurut Koordinator Aksi, Jeky Zamzami, aksi turun jalan dilakukan setelah upaya dialog dengan FPI gagal karena Abu Ayyas, ketua FPI setempat, tak bisa ditemui.
“Telepon seluler dia juga dimatikan. Itu sama saja tak mau diajak berunding dengan baik-baik,” kata Jeky Zamzami.
Dia meminta aparat bertindak tegas dengan membubarkan FPI. Organisasi itu dinilai tidak hanya anarkistis, tapi juga melecehkan institusi kepolisian karena menyerobot wewenang aparat keamanan. Menurut Jeky, FPI juga dianggap organisasi ilegal, sebab tidak terdaftar dalam Departemen Hukum dan HAM.
Ketika di hubungi Tempo untuk minta konfirmasi terkait dengan tuntutan dari masyarakat yang mendorong pemerintah membubarkan FPI, telepon seluler Abu Ayas memang tidak aktif.
Abu Ayas juga tak bisa ditemui di rumahnya, yang juga markas FPI, di dukuh Boyongsari RT 04 RW 05, kelurahan Panjang Baru kecamatan Pekalongan Utara kota Pekalongan. Jum’at sekitar pukul 17.30 WIB, saat Tempo bertandang, hanya ditemui Rasina, istrinya, beserta kelima anak merekaa yang masih kecil-kecil.
Menurut Rasina, Abu Ayas meninggalkan rumah sejak pagi tadi bersama seorang kawan berboncengan motor. “Hingga kini belum pulang mas”, kata Rasina.
Rasina sendiri juga baru kembali ke rumah bersama anak-anaknya, setelah disuruh mengungsi ke rumah saudara oleh suaminya.
Sementara itu, Adri Sulistia Nugraha, manajer proyek PT Arta Kibar, ketika di hubungi Tempo di perumahan Kampoeng Paradise, Kota Pekalongan, membenarkan adanya pengrusakan yang dilakukan oleh masa FPI bersama ormas Islam terhadap patung di gerbang, yang mereka kira sebagai patung Bunda Maria.
Menurut Adri, Pengrusakan yang dilakukan oleh FPI terjadi sekitar bulan Maret 2008. Saat itu sekitar 30 orang mendatangi pintu gerbang perumahan Kampoeng Paradise dan merusak patung Trevi yang dikira patung Bunda Maria.
“Padahal itu patung Trevi. Mereka mengira di perumahan ini ada kristensiasi” kata Adri Sulistia Nugraha.
Meski begitu Adri menyayangkan sikap FPI yang anarkistis. “Tanpa membicarakan permasalahannya lebih dulu dengan pihak menejemen proyek.” Edi Faisol