Rabu, 4 Juni 2008 | 02:02 WIBJakarta, Kompas – Kepala Polda Metropolitan Jakarta Raya Inspektur Jenderal Adang Firman memberi ultimatum kepada para tersangka anggota Front Pembela Islam—sedikitnya 10 orang—untuk menyerahkan diri secepatnya.
Polisi memberi waktu penyerahan diri itu hingga pukul 00.00. Jika tidak, polisi akan menangkap langsung.
”Saya Kepala Polda Metro Jaya beserta seluruh jajaran memberikan waktu sampai dengan malam ini kepada yang bersangkutan (para tersangka) untuk segera menyerahkan diri kepada kepolisian. Kalau sampai dengan malam ini yang bersangkutan masih belum menyerahkan diri kepada kepolisian, saya terpaksa akan mengambil tindakan tegas sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Adang, dalam jumpa pers di kantor Polda Metro Jaya, Selasa (3/6) malam.
Ditanya mengapa polisi tidak langsung menangkap, Adang menjelaskan, hal itu karena pernyataan dari pimpinan FPI menyatakan bahwa para anak buahnya akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di Monas. ”Jadi kita masih berbaik hati. Saya kira, hal seperti itu sudah biasa dilakukan oleh kepolisian,” ujarnya.
Adang menambahkan, langkah persuasif tersebut dilakukan juga untuk mengurangi kemungkinan ekses di lapangan yang dapat mengorbankan warga.
Pangdam Jaya Mayjen J Suryo Prabowo secara terpisah mengatakan, siap membantu Polda Metro Jaya untuk mengamankan Kota Jakarta, jika ada permintaan dari Polri. ”Mengamankan Kota Jakarta bukan tugas utama TNI AD. Namun, jika ada permintaan dari Polda agar Kodam Jaya membantu pengamanan, kami siap menerjunkan pasukan membantu polisi,” kata Suryo Prabowo menjawab pers di Markas Kodam Jaya.
Hingga pukul 23.30, ratusan orang masih berkumpul di sekitar rumah Habib Rizieq Shihab. Konsentrasi massa terbagi di dua titik, yaitu di Gang Paksi yang menuju rumah Habib. Jalan masuk menuju gang itu dipalang dengan dua bilah bambu dan dijaga sekitar delapan orang.
Titik kedua, di Jalan Petamburan III, digelar terpal dan sekitar 200 anggota laskar duduk di sana.
Laporkan AKKBB
Selasa kemarin, Ketua FPI, Habib Rizieq Shihab, bersama tim pengacara dari Tim Pembela Muslim dan sejumlah pengurus kelompok massa Islam, mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jakarta Raya. FPI melaporkan 289 orang yang nama-namanya tercantum dalam iklan AKKBB yang dinilai sebagai aktor intelektual insiden Monas.
Sekjen Forum Umat Islam Muhammad Al Khaththath yang membacakan dasar laporan FPI itu, menyatakan, aksi AKKBB di kawasan Monas itu adalah aksi ilegal karena tanpa izin.
Dari nama-nama yang dilaporkan ke Polda Metro Jakarta Raya itu, Habib Rizieq menyebut sejumlah nama, di antaranya Abdurrahman Wahid dan Amien Rais.
Dengan pelaporan itu, kata Habib Rizieq, FPI sudah menyerahkan penanganan insiden Monas itu ke polisi. Habib Rizieq meminta polisi untuk bersikap obyektif dan tidak bersikap diskriminatif dalam menangani kasus itu.
Ketika ditanya apakah Panglima Komando Laskar Islam Munarman mau menyerahkan diri ke polisi, Habib Rizieq menyatakan, Munarman siap menyerahkan diri apabila polisi tidak bertindak diskriminatif.
Tuntut ketegasan
Tuntutan agar pemerintah segera bersikap tegas dengan menindak para pelaku kekerasan, semakin menguat. Di saat bersamaan, potensi konflik horizontal mulai meluas ke berbagai wilayah di Indonesia.
Dewan Perwakilan Rakyat kemarin menuntut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan dan Pemegang Kekuasaan Tertinggi atas Angkatan Darat, Laut dan Udara, agar tidak hanya mengecam kekerasan di Monas, tapi menindak semua orang yang bertindak anarkis.
Anggota Komisi III (Bidang Hukum) dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Nadrah Izahari menyatakan hal itu saat mendampingi Wakil Ketua Komisi III Suripto dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang menerima Aliansi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan dan Premanisme Berbasis Agama, Selasa.
”Bukan hanya ucapan yang kita harapkan dari SBY, tapi action untuk menindak para pelaku kekerasan,” ujarnya.
Di Jember, Jawa Timur, FPI kemarin menyatakan membubarkan diri, setelah ratusan orang dari Satgas Garda Bangsa Partai Kebangkitan Bangsa dan Gerakan Pemuda Ansor dengan kawalan polisi mendatangi markas FPI di Kampung Kauman, Kelurahan Mangli, Jember, Jawa Timur.
Ketua FPI Jember Habib Abu Bakar menyatakan, pihaknya tidak sependapat dengan perbuatan anggota FPI di Jakarta yang bertindak anarkis. ”Kami sangat menyesalkan kejadian tersebut, dan tidak setuju melakukan tindak kekerasan terhadap sesama hamba Allah. Sungguh saya menyesal dengan kejadian itu,” katanya.
Elemen-elemen organisasi massa di bawah NU Jatim, juga menyerukan pembubaran FPI. Aliansi Masyarakat Cinta Damai Jatim mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan meminta agar FPI dibubarkan.
Di Banyumas, massa dari Aliansi Masyarakat Pecinta Merah Putih Banyumas dan Lembaga Independen Banyumas (Libas) menuntut agar DPRD Banyumas ikut mendukung untuk menghentikan kekerasan, sekaligus membubarkan FPI.
Di Majalengka, Jawa Barat, sejumah ulama, pemuda, dan warga yang bergabung dalam Aliansi Masyarakat Majalengka berunjuk rasa di depan Kantor Bupati dan DPRD Majalengka, menuntut agar FPI ditindak tegas. KH Ahmad Bunyamin Buchori, ulama Majalengka, menilai, aksi kekerasan di Monas bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila.
Sedangkan Forum Masyarakat Beragama untuk Bangsa Jawa Tengah mendesak aparat hukum menindak tegas pelaku kekerasan terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Sekitar 50 anggota Formusa berorasi di Jalan Pahlawan, Semarang.
Di Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, mengimbau semua kelompok masyarakat tidak melakukan aksi anarkis dengan alasan apa pun. ”Jangan ada aksi balas dendam antarkelompok masyarakat yang membuat masyarakat tidak tenang,” katanya.
Dialog
Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa Zannuba Arifah Chafsoh, akrab dipanggil Yenny Wahid, semalam memastikan seluruh pendukung dan pecinta Abdurrahman Wahid sepakat menggelar aksi mendatangi langsung para pengikut Front Pembela Islam (FPI) di seluruh daerah di Indonesia untuk kemudian diajak berdialog.
Langkah itu, menurut Yenny, untuk menyalurkan protes para pengikut Abdurrahman Wahid yang keberatan dengan pernyataan pemimpin FPI Habib Muhammad Rizieq Shihab yang dianggap telah menghina.
Yenny menambahkan, pihaknya menjamin tidak akan ada bentrokan fisik dengan para pendukung FPI karena dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya sudah disepakati kedatangan mereka nanti dilakukan secara damai dan tanpa ada seorang pun diperbolehkan melukai siapa pun sesuai koridor aksi yang telah disepakati dan ditetapkan.
Secara terpisah, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Jakarta, meminta agar Nahdlatul Ulama jangan diumpankan untuk bentrok fisik dengan kelompok mana pun. Pelibatan organisasi NU justru dapat memicu kekerasan lain yang lebih panjang dan lebih merugikan.
”Semua keputusan PBNU tentang masalah akidah (dasar-dasar beragama) maupun syariah (hukum), hanya dapat dikeluarkan melalui rapat gabungan antara Dewan Tanfidziah dan Dewan Syuriah PBNU. Tidak boleh ada seorang pun yang berwacana sendiri dengan membawa-bawa nama NU,” tegasnya.
Untuk itu, lanjut Hasyim, PBNU meminta kepada seluruh warga NU untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. (SUT/DWA/MZW/CAS/A03/MDN/ YOP/A06/WER/A11/RWN/A15/THT/ INA/A14/CHE/SIR/COK/KSP/SF/GAL)