03
Jun
08

Kepercayaan Diri Bangsa Harus Dibangkitkan Lagi

Nasionalisme
Selasa, 3 Juni 2008 | 11:52 WIBYOGYAKARTA, KOMPAS – Dalam catatan sejarah, Indonesia pernah memiliki para pemimpin yang berani berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dalam berdiplomasi dengan bangsa lain. Sayang, spirit itu tak lagi banyak terlihat dari para pemimpin Indonesia saat ini. Kepercayaan diri yang hilang itu pun harus dibangkitkan kembali. Demikian refleksi yang terungkap dalam bedah buku Indonesia Melawan Amerika, Konflik Perang Dingin 1953-1963 karya Baskara T Wardaya SJ di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Sabtu (31/5). Pada kurun waktu 1953-1963 ketika konflik Perang Dingin mencuat, berbagai kebijakan yang diambil Pemerintah Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal dari luar negeri. Meskipun begitu, dalam berdiplomasi, Indonesia mampu menunjukkan harga dirinya sehingga tidak direndahkan negara lain. Ada suatu masa dalam sejarah bangsa ketika para pemimpin menjadikan komitmen terhadap rakyat sebagai dinamo pokok perjuangan mereka.

Ketika berhadapan dengan bangsa lain, mereka mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Meski baru merdeka sekitar 15 tahun, para pemimpin kita memosisikan diri sejajar dengan bangsa lain, tutur Baskara. Meskipun miskin secara ekonomi, waktu itu bangsa Indonesia tetap percaya diri dengan segala potensi dan sumber daya alam serta kekayaan pengalaman memperjuangkan kemerdekaan yang dimiliki. Kepercayaan diri inilah yang sekarang terus luntur. Dengan keterbatasan ekonomi dan segala krisi yang dihadapi, Indonesia tak punya cukup keberanian untuk menantang negara-negara maju. Sejalan dengan kebangkitan nasional, kita juga harus mampu kembali berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka, kata Baskara. Pembelajaran Untuk menguatkan kepercayaan diri bangsa, kehadiran dan pembelajaran sejarah yang sudah ditorehkan para pejuang tidak bisa dilupakan. Sejarah adalah kebutuhan karena itu sejarah juga tidak boleh dibelok-belokkan. Penyampaian sejarah harus benar, ujar Andaryoko Wisnuprabu (89), seorang pejuang kemerdekaan yang turut membedah Indonesia Melawan Amerika. Sosiolog George Junus Aditjondro mengingatkan, penyampaian sejarah sendiri jangan sampai terjebak dengan dikotomi istilah yang menggiring pada kesan baik-buruk atau kawan-lawan. Sebagai contoh, George mengkritik Baskara yang menulis dalam bukunya Korea komunis untuk merujuk ke Korea Utara, sementara Korea Selatan tidak diberi label Korea kapitalis. (DYA)


0 Responses to “Kepercayaan Diri Bangsa Harus Dibangkitkan Lagi”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply