Archive for June 1st, 2008

01
Jun
08

Rekonsiliasi sebagai Kebutuhan Mutlak

Komisi Kebenaran
Minggu, 1 Juni 2008 | 23:58 WIBJakarta, Kompas – Rekonsiliasi merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan. Untuk itulah kehadiran undang-undang baru untuk pembentukan komisi kebenaran dan rekonsiliasi sangat ditunggu-tunggu. Pada Desember 2006, Mahkamah Konstitusi membatalkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.

Demikian mengemuka dalam silaturahim nasional dengan tema ”Dengan semangat Kebangkitan Nasional, Kita Isi Kemerdekaan, Tingkatkan Silaturahmi, Rajut Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, Minggu (1/6). Acara yang diprakarsai Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) ini menghadirkan pembicara kunci Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie.

Dalam kesempatan itu, FSAB juga memberikan penghargaan kepada mereka yang mempunyai perhatian terhadap rekonsiliasi dan anak-anak bangsa berprestasi. Beberapa dari mereka yang memperoleh penghargaan adalah Maria Hartiningsih (wartawan Kompas), Desi Anwar (jurnalis senior Metro TV), dan Sidharto Dhanusubroto (mantan Ketua Pansus RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi/KKR).

Salah satu pendiri FSAB, Letjen (Purn) Agus Widjojo, mengungkapkan, FSAB yakin rekonsiliasi merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan dan dijamin oleh konstitusi. ”Rekonsiliasi itu untuk bisa melihat masa lalu dan membangun masa depan,” katanya.

Menurut Agus, bangsa Indonesia harus mencoba membangun rekonsiliasi sehingga bisa menemukan kebenaran yang bisa menjamin di masa mendatang.

Sidharto mengungkapkan salah satu hal terpenting dalam KKR adalah menceritakan kebenaran. ”Untuk membahas soal kebenaran ini dibutuhkan waktu berbulan-bulan bagi kami yang membahas RUU KKR. Sayangnya, itu dibatalkan begitu saja oleh MK,” katanya. (SIE)

01
Jun
08

Pancasila, antara Desakralisasi dan Revitalisasi

Kompas, Minggu, 1 Juni 2008 | 23:54 WIB

Oleh TOTO SURYANINGTYAS

Pasang naik dan surutnya pamor Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa terlihat jelas dalam teropong perjalanan bangsa. Setelah melewati suatu masa yang begitu diagungkan sekaligus menakutkan, Pancasila mengalami proses ”desakralisasi” pascareformasi 1998.

Meski tidak tampak terang, Pancasila pascareformasi menjadi semacam frasa yang ”ditidurkan”, jika tak bisa dibilang dihindari, oleh berbagai komponen politik dan masyarakat. Sedikit banyak muncul pertanyaan akan kemampuan ideologi Pancasila menjawab persoalan kontemporer sembari mempertahankan eksistensi otentiknya.

Yang tampak di permukaan adalah pergeseran kebijakan publik yang terentang mulai dari kurikulum pendidikan formal, asas perundangan, hingga lembaga tertinggi negara. Keberadaan asas tunggal Pancasila dalam tiap-tiap produk politik mengalami perubahan format yang mengisyaratkan sebuah pergeseran makna Pancasila.

Atas nama perubahan sejarah, sikap anti terhadap orde otoritarian diwujudkan dengan merombak hampir semua pilar penopang struktur politik Pancasila. Puncak dari desakralisasi simbol Pancasila akhirnya terwujud dalam perombakan UUD 1945 yang diamandemen hingga menyisakan bagian Preambul saja sebagai wilayah yang tidak ”disentuh”.

Akibat selanjutnya jelas. Secara perlahan, simbolisasi Pancasila dalam gambar, lagu, bahkan hafalan butir-butir sila Pancasila semakin temaram dalam ingatan anak bangsa. Terlepas dari tarik ulur wacana soal bagaimana seharusnya menafsirkan sebuah ideologi, yang jelas tampak penyusutan memori kolektif atas pengetahuan tentang dasar negara ini.

Jajak pendapat Kompas tentang Pancasila dua tahun terakhir merekam kondisi tersebut. Menjawab pertanyaan tentang bunyi sila Pancasila, ingatan paling kuat responden hanya berhenti pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebanyak 81,6 persen responden menjawab dengan benar. Pada sila kedua dan selanjutnya, proporsi ini terus menurun hingga yang paling rendah bertengger pada angka 52 persen responden yang mampu menyebutkan benar isi sila.

Jika dilihat secara keseluruhan jawaban responden tersebut, proporsinya lebih rendah daripada hasil jajak pendapat tahun 2006. Kian dilupakankah Pancasila? Apakah tesis Daniel Bell tentang berakhirnya ideologi, seperti tertuang dalam The End of Ideology, terjadi di negeri ini?

Menurut Bell, ideologi bangsa bakal terhapus saat semua kekuatan (partai) politik mencapai konsensus umum yang mampu meminggirkan kepentingan dan ideologi partai. Konsensus itu dicapai karena ruang perbedaan sudah dipenuhi oleh kesejahteraan. Negara mampu menghapuskan kemiskinan, menjamin kebebasan, kemakmuran, dan kesempatan bagi semua orang. Dalam situasi semacam itu, ideologi tereduksi menjadi sekadar sebuah proses mencari cara terbaik menerapkan kebijakan.

Sayangnya, mencapai prasyarat tercapainya konsensus semacam itu tampaknya masih menjadi utopia. Berkebalikan dengan asumsi negara kesejahteraan versi Bell, kondisi yang terjadi pascareformasi adalah sebuah antitesis dari penafsiran tunggal Pancasila secara manipulatif sebelumnya. Masyarakat pada berbagai lapisan menumpahkan kekesalan atas represi ideologi Orde Baru pada eksistensi dasar negara Pancasila, yang berujung pada sikap tidak peduli.

Perapuhan ideologi

Tarikan-tarikan kepentingan politik atas nama pelaksanaan Pancasila memang sebuah keniscayaan dalam percaturan politik. Bedanya, jika tarikan ini menggoyahkan fungsinya sebagai tuntunan dinamis rakyat, bangsa, dan negara, atau suatu Leitstar (pedoman)—menurut Soekarno—maka persoalannya jadi berbeda.

Dalam kondisi semacam ini, ideologi menjadi gula-gula yang dipakai rezim penguasa memuaskan hasrat dan mencapai kepentingannya sendiri. Orde Lama banyak dinilai cenderung bersifat sosialis diktator menafsirkan dasar negara, sementara era Orde Baru menarik Pancasila ke kutub kapitalisme-otoritarian, dan belakangan Orde Reformasi mengambangkan makna Pancasila.

Bersamaan dengan pasang surut pemaknaan ideologi bangsa itu, kondisi riil kesejahteraan masyarakat yang disyaratkan dalam welfare state tampak selalu tertinggal. Perkembangan sistem demokrasi politik saat ini boleh saja tampak makin transparan dan partisipatif. Sistem pemilu semakin bebas dan calon independen (Nanggroe Aceh Darussalam dan sebentar lagi berlaku di seluruh Indonesia) bisa menduduki jabatan tertinggi di daerah.

Namun, pada saat bersamaan, sendi-sendi yang mendasari bangunan politik dan kebangsaan makin kedodoran. Publik jajak pendapat menilai, aspek kebangsaan yang tecermin dalam rasa persatuan dan kesatuan bangsa sebenarnya sedang mengalami sebuah proses perapuhan.

Bagian terbesar responden menuding rentang kesejahteraan antara mereka yang kaya dan miskin menjadi sebab utama yang paling dikhawatirkan memecah ikatan solidaritas dalam masyarakat.

Disparitas ketahanan ekonomi masyarakat menjadi isu paling krusial dibandingkan soal perbedaan pilihan parpol, asal usul, suku, maupun agama.

Beban hidup yang semakin berat ini juga sudah terekam dalam jajak pendapat awal Mei 2008. Orde Reformasi dinilai baru berhasil menghadirkan format politik dan kebebasan berekspresi (70 persen responden).

Sebaliknya, nyaris semua responden (95 persen) menilai, negara masih gagal dalam menjamin ketersediaan bahan pangan dan sembako yang murah.

Revitalisasi

Reposisi dan revitalisasi Pancasila akhir-akhir ini banyak disuarakan berbagai kalangan. Di tengah berbagai kesulitan akibat naiknya beban hidup, kusutnya persaingan politik, dan serbuan pengaruh globalisasi, semangat mencari lagi jiwa dan jati diri bangsa tampak menjadi opsi termujarab mengembalikan asa negeri.

Dalam jajak pendapat ini pun terungkap keinginan semacam itu. Sebagian besar responden jajak pendapat ini, lebih dari tiga perempat, menyatakan pernah menerima penataran Pancasila yang termasyhur itu dan menilai perlunya dilakukan kembali penataran semacam itu! Apa yang dulu dinilai demikian merepotkan, bahkan menakutkan, kini dirindukan kembali.

Boleh jadi ungkapan itu lebih didorong oleh rasa keprihatinan atas kondisi bangsa saat ini. Meski demikian, persoalan sebenarnya ada pada tataran kemampuan para pemimpin bangsa untuk mereposisi dan merevitalisasi makna Pancasila.

Sebagaimana jawaban responden, sebagian besar menginginkan langkah pertama dilakukan para pemimpin. Keseriusan menerapkan nilai luhur budi pekerti Pancasila sebagaimana diajarkan Presiden Soekarno, yakni jiwa gotong royong, kebangsaan, dan nasionalisme, semestinya dilakukan sebagai teladan bagi rakyat.

Dalam bidang legislatif, misalnya, sikap tokoh politik bermusyawarah kini dinilai makin buruk dan lebih mengedepankan voting. Demikian juga dalam menerapkan keadilan berbagai bidang kehidupan, termasuk penghargaan hak asasi manusia bagi seluruh rakyat, peran negara makin tidak dirasakan.

Cita-cita yang terkandung dalam Pancasila semakin jauh dari kenyataan jika keadilan sosial tidak terwujud. Kekuasaan hanya beredar di kalangan elite politik yang bermusyawarah untuk membagi-bagi kekuasaan. Dengan kondisi itu, tesis Bell akan tamatnya ideologi tampak makin mendekat. Bedanya, bukan kesejahteraan yang mengakhiri ideologi, tapi kepentingan elite. (Litbang Kompas)

01
Jun
08

Warga NU Robohkan Papan FPI Cirebon

01/06/08 23:18

Cirebon (ANTARA News) – Puluhan warga NU terdiri dari unsur PMII dan Anshor, Minggu malam sekitar pukul 20.00 WIB menyerang Sekretariat Front Pembela Islam (FPI) Cirebon, di Jalan Fatahilah, Gang Dukuh Dalem, Desa Setu Kulon, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.

Tindakan masa NU dari kalangan muda itu untuk membalas sakit hati warga NU karena anggota Dewan Syuro DPP PKB KH Maman Imanulhaq Faqieh, MA, dari Majalengka menjadi korban pemukulan massa FPI di sekitar Silang Monas, Jakarta.

Sebelumnya sejumlah kyai dan ormas Islam lainnya mengadakan pertemuan di Pesantren Kempek Cirebon untuk mengutuk kekerasan yang dilakukan massa FPI terhadap Aliansi Kebangsaan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang baru selesai mengadakan aksi damai di Silang Monas, Jakarta, Minggu siang.

Aksi spontanitas begitu melihat papan nama FPI

Menurut Ketua GMNI Kabupaten Cirebon Ujang Kusuma Atmawijaya yang ikut dibelakang rombongan penyerang itu, aksi tersebut tidak diagendakan tetapi spontanitas terjadi saat melihat ada papan nama FPI.

“Saya ikut pertemuan di Kempek, tetapi kami membuat pernyataan sendiri yang mengutuk kekerasan massa FPI di Jakarta,” katanya yang saat itu tengah berjalan pulang dibelakang rombongan massa NU.

Usai pertemuan massa kemudian membubarkan diri, namun sebagian massa yang melintasi Sekretariat FPI Cirebon kemudian terpancing untuk melakukan pengrusakan dengan merobohkan papan nama FPI di mulut Gang Dukuh Dalem.

Massa sempat berusaha masuk untuk menyerbu Sekretariat FPI, namun Ketua RT03 Darto segera datang menemui massa yang berkerumun dan menjelaskan bahwa di tempat itu tidak ada Sekretariat FPI tetapi yang ada hanya papan namanya saja.

“Tidak ada Kantor FPI di sini, kalau itu hanya papan nama saja,” katanya kepada kerumunan massa.

Massa akhirnya bergerak ke arah Sumber, namun beberapa anggota FPI tanpa atribut kemudian mengikuti dari belakang rombongan warga NU tersebut. Menurut Wahyono, salah satu anggota FPI, para penyerang masih bergerombol di depan Kantor DPC PKB Kabupaten Cirebon di Kecamatan Watu Belah, sekitar empat kilometer dari Sekretariat FPI Cirebon.

FPI mau membalas massa penyerang di Kantor DPC PKB Cirebon

Sebagian anggota FPI kemudian berusaha untuk menggalang massa dan bersiap untuk menyerang massa yang berkumpul di depan PKB, namun akhirnya dicegah Kapolres Cirebon AKBP Edhy Mustofa yang datang ke lokasi kejadian.

“Kita jangan dulu menuduh, nanti anggota saya saja yang akan mengecek apakah memang penyerang masih berkerumun di sana. Kalau main tuduh nanti bisa salah sasaran. Biarkan kami saja yang mengusut aksi pengrusakan ini,” kata Kapolres didepan Ketua FPI Cirebon H Habib Muhamad Husein.

Habib Muh Husein kemudian menenangkan massa dan meminta anggota FPI untuk menahan diri karena masalah itu sudah diserahkan kepada kepolisian. “Kita tenang saja dulu di sini karena masalah pengrusakan sudah diserahkan kepada kepolisian,” katanya.

ANTARA bersama beberapa wartawan mencoba mengejar ke Kantor PKB, sebagai tempat yang diduga masih berkerumun para penyerang, namun hanya melihat sekitar delapan orang yang tengah duduk-duduk di depan Kantor PKB yang masih dalam tahap pembangunan.

Ketika ditanya apakah ada konsentrasi massa beberapa puluh menit sebelumnya, mereka yang sebagian warga setempat mengaku tidak tahu menahu adanya kerumunan massa. “Tidak ada kerumunan massa, apa-apa,” kata seorang pemuda yang juga penjaga Kantor DPC PKB.

FPI jaga sekertariat bersenjatakan kayu, samurai

Sampai berita ini diturunkan, puluhan petugas kepolisian masih berjaga-jaga di lokasi kejadian, demikian juga ratusan massa FPI masih menjaga Sekretariat FPI Cirebon dengan persenjataan yang sudah disiapkan seperti kayu, dan samurai.(*)

01
Jun
08

Negara Wajib Lindungi Hak Konstitusional Warganya

Andi Mallarangeng soal Penyerangan terhadap Massa AKKBB

Minggu, 01 Juni 2008 | 22:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Menanggapi penyerangan terhadap kelompok Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di pelataran Monumen Nasional, Minggu (1/6), juru bicara kepresidenan Andi Malarangeng menyatakan, negara harus melindungi warga yang terlanggar hak konstitusionalnya.

“Negara harus melindungi warga negara yang terlanggar hak konstitusionalnya,” ujar Andi Malarangeng kepada Tempo Newsroom malam tadi (1/6) saat dihubungi melalui telepon.

Menurut Andi, negara melindungi warga negara melalui tindakan hukum yang diserahkan kepada aparatnya. Namun Andi tidak menjelaskan prosedur hukum seperti apa yang akan dilakukan.

“Mekanisme hukumnya diserahkan kepada aparat penegak hukum, seperti kepolisian dan sebagainya, tapi tidak bisa dielaborasi di sini,” ujar Andi. Ia menambahkan, saat ini Presiden Yudhoyono sudah menerima laporan soal penyerangan tersebut.

Cheta Nilawaty

01
Jun
08

Kronologis Penyerangan versi Syafi’i Anwar

Minggu, 01 Juni 2008 | 22:36 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

* Pukul 13.00 Persiapan acara peringatan Hari Pancasila oleh Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), semua massa berkumpul di dekat Gambir

* Rombongan AKKBB berjalan bersama-sama ke arah Tugu Monas. Selain AKKBB ada massa lain seperi Hizbut Tahrir dan massa PDIP

* Saat berjalan beberapa meter dari Gambir menuju Monas, terdengar rombongan wanita dan anak-anak berteriak-teriak minta tolong, diikuti teriakan “Allahu Akbar” dan “Bunuh Ahmadiyah”

* Rombongan AKKBB diserang dari depan. Sebagian penyerang membawa bambu panjang.

* Penyerang langsung memukul beberapa orang yang dikenali, antara lain, Syafi`i Anwar Direktur ICIP, Kiai Maman Imanuhaq Pengasuh Pesantren Azzaman, dan Direktur Wahid Institut, Ahmad Suaedi.

* Sebagian massa AKKBB yang tidak terluka kemudian berlindung di halaman Galeri Nasional Indonesia.

* Pada pukul 16.00 masa penyerang tetap menghampiri massa AKKBB untuk melakukan sweeping.

Cheta Nilawaty

01
Jun
08

Wanita dan Orang Cacat Ikut Jadi Korban Penyerangan

Minggu, 01 Juni 2008 | 22:30 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Penyerangan terhadap masa Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKB) ikut memakan korban wanita dan orang cacat.

“Saya lihat dengan mata kepala sendiri wanita, entah menurut dugaan saya itu wanita Ahmadiyah, yang digebuki. Bahkan ada orang di atas kursi roda yang ikut digebuki,” ujar Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Sayfi`i Anwar, yang ikut menjadi korban penyerangan, kepada Tempo Newsroom tadi malam (1/6).

Sayfi`i yang menjadi korban kekerasan menduga penyerangan itu sudah direncanakan sebelumnya. Sebab ia yang berdiri paling belakang di barisan sebelum masuk ke arah arena acara langsung mendapat serangan berupa pemukulan dengan bambu panjang.

“Ada tiga orang yang menyerang saya, dua orang memukulkan bambu pada badan saya, tapi masih bisa saya tangkis, ketika saya ingin menolong kiai Imannul Haq mereka memukul kepala saya dengan bambu,” ujarnya.

Menurut kesaksian Syafi`i, orang-orang yang menyerang menggunakan baju koko warna putih dan tidak menggunakan sorban. Mereka datang tiba-tiba tanpa diketahui asal-usulnya.

Sebagian korban yang sudah berteriak bahwa mereka bukan Ahmadiyah pun tetap menjadi sasaran pemukulan tongkat bambu. Bahkan ada yang sudah jatuh tapi masih tetap dipukuli. Salah satu korban, Pengasuh Pesantren Azzaman Cirebon, Kyai Maman Imanulhaq menderita luka robek didagunya.

“Di sebelah saya, Kiai Mamam jatuh dan berteriak saya bukan Ahmadiyah, tapi masih saja tetap dipukuli kepalanya. Saya ingin menolong, namun ada yang memukuli saya juga, tapi karena bahaya, saya langsung menghindar, saya masih beruntung,” ujarnya.

Cheta Nilawaty

01
Jun
08

Dien Syamsudin Kecam Penyerangan Terhadap AKKBB

Minggu, 01 Juni 2008 | 20:38 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dien Syamsudin mengecam tindakan kekerasan yang terjadi terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) saat acara apel akbar yang digelar di Monumen Nasional siang hari tadi (1/6)

“Selain merusak citra Islam, perbuatan seperti itu adalah tindak kriminal yang patut diusut dan dikenai sanksi hukum,” kata Dien melalui pesan singkatnya kepada Tempo Newsroom malam ini.

Menurut Dien, tindakan tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Apapun bentuknya, lanjut Dien, tindak kekerasan tidak dapat dibenarkan. “Apalagi dengan manyalahgunakan agama,” ujarnya.

Perbedaan pendapat di kalangan masyarakat, kata Dien, tidak sepantasnya diselesaikan dengan main hakim sendiri. “Saya mengharap segenap pihak dapat menahan diri dan tidak terjebak dalam kekerasan dan anarkisme,” kata dia.

Penyerangan terjadi siang tadi ketika massa dari Aliansi Kebangsaan Terhadap Kebebasan Beragama (AKKB)menghadiri acara peringatan Hari Pancasila 1 Juni di Lapangan Monas. Dalam masa AKKB tersebut terdapat masa Ahmadiyah.

Kelompok yang menyebut dirinya Laskar Pembela Islam mengaku bertanggung jawab atas aksi ini. Panglima LPI Muhammad Machsuni membenarkan penyerangan itu merupakan tindak penegasan kepada AKKBB yang mendukung Ahmadiyah.

“Kami bertanggungjawab atas penyerangan itu.” kata Machsuni kepada Tempo Newsroom melalui sambungan telepon malam ini. Menurutnya, Ahmadiyah sudah berganti kulit menjadi AKKBB. Ahmadiyah, tambahnya, perlu ditindak tegas karena telah mencoreng nama umat Islam. Pilihannya hanya dua, katanya. “Tobat atau perang!”

Tities Setyaningsih

01
Jun
08

Hizbut Tahrir Bantah Menyerang Ahmadiyah

Minggu, 01 Juni 2008 | 20:30 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melalui juru bicaranya, Ismail Yusanto, menolak dikaitkan dengan peristiwa penyerangan terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama di Monumen Nasional, Minggu (1/6).

“Saat kejadian kami sedang aksi menolak kenaikan harga BBM di depan Istana Negara,” ujar Ismail. Dia pun menolak bila Munarman dikaitkan dengan HTI. “Dia tidak ada kaitannya dengan HTI, Munarman itu ketua tim advokasi FPI,” kata Ismail.

Menurut Ismail, bila HTI dikaitkan dengan peristiwa penyerangan itu dan dilaporkan ke Polda, pihaknya akan menuntut balik, “Itu namanya pencemaran nama baik,” ungkpanya.

Cornila Desyana

01
Jun
08

Laskar Pembela Islam Akui Serang AKKBB

Minggu, 01 Juni 2008 | 20:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Penyerangan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) saat acara apel akbar yang digelar di Monumen Nasional siang hari tadi (1/6), dilakukan oleh Laskar Pembela Islam (LPI). Panglima LPI Muhammad Machsuni membenarkan penyerangan itu merupakan tindak penegasan kepada AKKBB yang mendukung ahmadiyah.

“Kami bertanggungjawab atas penyerangan itu.” kata Machsuni kepada Tempo Newsroommelalui sambungan telepon malam ini. Menurutnya, Ahmadiyah sudah berganti kulit menjadi AKKBB. Ahmadiyah, tambahnya, perlu ditindak tegas karena telah mencoreng nama umat Islam. Pilihannya hanya dua, katanya. “Tobat atau perang!”

Machsuni juga menjelaskan bahwa tindak kekerasan fisik ini bukan hal yang melanggar. “Masak perang, hanya dicolek saja.” katanya.

Menurut pengakuan Machsuni, saat penyerangan tadi dia sempat melihat ada anggota AKKBB membawa senjata api.

LPI adalah organisasi yang berbeda dengan FPI. “Seperti NU punya Banser, seperti Muhammadiyah punya Pemuda Muhammadiyah.” katanya. Sehingga, kata dia, memang antara FPI dan LPI memiliki komando yang berbeda.

Dihubungi terpisah, Munarman, yang diduga salah satu anggota aksi Hizbut Tahrir, tidak mau berkomentar masalah penyerangan terhadap AKKBB itu. “Kalau mau diproses pihak kepolisian silakan saja. Saya tidak mau mengomentari isu.” katanya ketus melalui sambungan telepon.

Sementara itu, Kapolres Jakarta Pusat Komisaris Besar Heru Winarko membenarkan kerusuhan yang terjadi tersebut. Menurut informasi yang dihimpun dari lapangan, organisasi massa Islam datang tidak secara berkelompok. “Mereka datang satu per satu menggunakan motor.” katanya melalui telephon. Mereka, tambah Heru, satu per satu memasuki kawasan Monas dan melakukan penyerangan. Segera, aparat membubarkan penyerangan tersebut.

Sebelumnya, menurut Heru, pihak Polda telah menyarankan kepada AKKBB agar apel akbar tidak dilakukan pada hari ini karena penuhnya massa dan demi alasan keamanan. Tetapi AKKBB tetap melakukan aksinya.

Ismi Wahid

01
Jun
08

Aliansi Kebebasan Beragama Melapor ke Polisi

Minggu, 01 Juni 2008 | 17:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan melapor ke Polda Metro Jaya atas aksi kekerasan yang dilakukan sekelompok orang yang diduga dari Front Pembela Islam (FPI). Massa yang diduga dari FPI itu menyerang massa aliansi yang tengah menggelar apel besar di lapangan Monas. Akibatnya 12 orang luka parah dan beberapa lainnya luka ringan.

“Kami minta polisi menindak mereka yang melakukan kekerasan, kami juga menyesalkan sikap aparat yang tidak menjaga,” kata Anik H.T. Koordinator Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, Ahad(1/6).

Anik tidak tahu pasti alasan sekitar 500 orang yang mengenakan atribut Front Pembela Islam menyerang mereka. Korban rata-rata luka di kepala akibat pentungan. “Ada lima orang yang luka berat,” ujarnya. Mereka yang luka dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Rumah Sakit Mitra Internasional, dan Rumah Sakit Tarakan.

Mereka yang menjadi korban pemukulan antara lain Ahmad Suaedy (Direktur Eksekutif the WAHID Institute), Syafii Anwar (Direktur International Center for Islam and Pluralism).

Muhammad Machsuni,Panglima Laskar Pembela Islam (LPI), mengatakan, penyerangan itu bukan dilakukan oleh FPI. “Tolong diluruskan, itu bukan FPI tapi LPI,” kata dia. Machsuni mengakui jika atribut FPI dan LPI mirip.

Alasan penyerangan itu, kata Machsuni, dilakukan karena ada orang-orang Ahmadiyah dalam acara itu. “Ahmadiyah mencemarkan umat Islam dan secara hukum sudah dilarang,” kata dia lagi. Apalagi anggota LPI melihat sendiri ada peserta rapat akbar yang membawa senjata api. “”Kami bukan melakukan kekerasan tapi memberi penegasan.” (Sutarto | Ismi Wahid)