JAKARTA Kompas, SENIN – Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Komaruddin Hidayat, Senin (21/4) menyatakan, larangan terhadap Jemaat Ahmadiyah oleh Badan Koordinasi Pengawas Keyakinan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) harus diikuti dengan solusi penyelesaian. Ada dua opsi penyelesaian yang ia tawarkan.
Pertama, Jemaat Ahmadiyah membuat agama sendiri yang bukan Islam, atau kedua, bergabung dengan Islam sebagai agama yang sudah ada. Hal itu dilontarkan oleh Komaruddin menjawab pers, seusai bersama alumni UIN dan Wakil Ketua MPR M Fatwa, bertemu dengan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, di Istana Wapres, Jakarta, Senin sore ini.
“Solusi terhadap Jemaat Ahmadiyah itu ada dua dua. Satu bergabung saja dengan mainstream Islam, sesuai dengan aturan yang baku atau pakem. Jadi, masuk kendaraan atau mobil Islam. Kedua, kalau tidak mau, ya membuat kapal sendiri dan rumah sendiri. Lalu, didaftarkan. Mau aliran kepercayaan Ahmadiyah atau lainnya, silakan,” ujar Komarruddin.
Komaruddin menambahkan, negara tidak bisa mengadili keyakinan agama seseorang. “Kalau keyakinannya sendiri tidak apa-apa. Tetapi, jika melibatkan banyak orang atau umat, itu bisa dianggap meresahkan dan mengganggu umat beragama. Jadi, dalam hal ini, bukan soal agamanya, melainkan dampak sosialnya dan juga kebebasan orang lain,” tandas Komaruddin.
Fatwa menambahkan, sekalipun menyerupai Islam, hal itu tidak dibenarkan, karena bisa dianggap menodai agama Islam. Negara berkewajiban melindungi penganut agama yang merasai dinodai. Dalam situasi seperti sekarang, baik Ahmadiyah maupun penganut Islam sama-sama terganggu. “Jadi, harus dikembalikan kepada konstitusi dan pemerintah harus mengambil jalan tengah. Saya kira dengan rekomendasi Bakor Bakem, itu menjadi pegangan. Tetapi, tidak boleh ada kekerasan, apapun bentuknya dan dari siapapun,” ujar Fatwa.
Umat beragama harusnya malu
Lebih jauh, Komaruddin mengatakan, sebaiknya umat beragama tidak membuat beban pemerintah bertambah dengan sejumlah masalah. Umat beragama harus bisa menyelesaikan masalahnya dengan banyak berdialog antar umat. “Baik Ahmadiyah maupun bukan, harus dilindungi. Karena itu, dianjurkan supaya ada dialog baik-baik. Sebab, kita malu, masa atas nama agama, kita saling ribut dan yang menyelesaikan adalah pemerintah. Seharusya, umat beragama itu ikut mengatasi masalah bangsa dan membantu menyelesaikan ekonomi bangsa yang terpuruk. Yang terjadi sekarang justru sebaliknya,” paparnya.
Ditambahkan, seharusnya umat beragama ikut membangun peradaban. Akan tetapi, yang terjadi justru malah membuat ribut. “Ini hal yang memprihatinkan,” tandas Komaruddin.
Suhartono