JAKARTA, RABU – Setelah melepaskan ‘jabatan’ Nabi atau Rasul Al Qiyadah Al Islamiyah, Ahmad Musaddeq berencana akan menjadi pendakwah atau dai. Profesi tersebut ia pilih, karena sesuai ajaran Islam, maka setiap muslim wajib menyampaikan ilmunya ke orang lain meskipun hanya satu ayat.
“Saya mencabut kembali pernyataan saya tentang Dinul (Agama Islam), termasuk saya sebagai Nabi atau Rasul. Saya hanyalah manusia biasa. Dan setelah ini, saya
akan menjadi dai atau mubaligh,” tegas Musaddeq saat membacakan pledoi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Rabu (9/4).
Kendati tidak menjadi Nabi atau Rasul, Musaddeq tetap yakin bahwa dalam waktu dekat akan turun seorang Nabi atau Rasul yang akan menegakkan ajaran Islam seperti
ketika Nabi Muhammad SAW membebaskan umatnya dari zaman jahiliyah.
Karena dirinya sudah menyatakan taubat nashuhah pada 9 November 2007 pasca berdialog dengan pimpinan Ormas Islam, Musaddeq tidak akan lagi mengajarkan ajaran Al Qiyadah yang telah dinyatakan oleh pemerintah.
Musaddeq yang mengaku memiliki 40.000 pengikut, juga telah mengganti dua kalimat Syahadat dengan kalimat diantaranya Muhammad SAW sebagai Rasul. Bukan lagi Al
Masih Al Mawud (Musaddeq) sebagai Rasul. Mantan pemain bulutangkis ini juga mengajarkan agar pengikutnya menjalankan Sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat serta menjalankan ibadah haji.
Ditegaskan Musaddeq, untuk meyongsong kehadiran Nabi atau Rasul yang akan membawa umat Islam ke jalan yang benar kembali, yang bisa ia lakukan hanyalah
mendakwahkan ajaran Islam seperti yang diajarkan Muhammad SAW. “Sebagai muslim, tugasnya adalah mendakwahkan ilmunya meskipun hanya satu ayat pun,”
ujarnya. (persda network/yls)